Minggu, 01 November 2009
CAPEK DEH
Boss bicara dengan sekretarisnya: "Seminggu kita pergi untuk perjalanan
dinas, tolong siap-siap."
Sekretaris telepon suaminya: "Mas, saya mau berangkat untuk perjalanan
dinas, hati-hati di rumah ya."
Suami telepon kekasih gelapnya: "Istriku mau berangkat seminggu, kau
ada
waktu?"
Kekasih gelap bilang terhadap anak kursusnya: "Nak, ibu punya banyak
kerjaan selama seminggu, kursus ditiadakan selama seminggu."
Anak kursus bilang terhadap kakeknya: "Kek, seminggu tidak ada kursus,
gurunya sibuk. Ayo kita jalan-jalan. "
Kakek (=Boss) telepon sekretarisnya: "Minggu ini saya mau jalan-jalan sama
cucu saya, meeting dibatalkan."
Sekretaris telepon suaminya: "Bossnya ada kerjaan rumah yang mendadak,
tripnya dibatalkan Mas."
Suami bilang kekasih gelapnya: "Kau tak bisa datang, istriku tak jadi
pergi."
Kekasih gelap telepon anak kursusnya : "Nak, kursus minggu ini berjalan
seperti biasa."
Anak kursus bilang sama kakeknya: "Kek, guruku bilang kursus berjalan
normal. Kakek jalan sendiri aja."
Kakek bilang sama sekretarisnya: "Minggu ini kita atur perjalanan dinas
lagi. Kamu siap-siap, yah!"
Rabu, 27 Mei 2009
crita asli indonesia
| Di suatu desa ada seorang anak gembala. Setiap hari dia menggembalakan kambingnya Warga desa yang mendengar teriakan anak itu segera berlari ke padang rumput untuk menyelamatkan kambing-kambing mereka. Namun ketika mereka sampai, ternyata tidak ada serigala. Hanya anak gembala itu yang tertawa terpingkal-pingkal melihat warga desa yang telah dibohonginya. Keesokan harinya, anak gembala tersebut mengulangi tipuannya. Dia berteriak lebih keras dari sebelumnya, “ada serigala…. Ada serigala… kambing-kambing kita mau dimakan… Warga desa kembali bergegas hendak menyelamatkan kambing-kambing mereka. Anak gembala itu kembali tertawa terpingkal-pingkal. Sampai pada suatu hari, segerombolan serigala benar-benar datang menghampiri kambing-kambing anak gembala itu. Si anak gembala Begitulah nasib yang menimpa anak yang sering berbohong: bahkan berkata benar pun tidak ada orang yang akan percaya. |
Selasa, 26 Mei 2009
Cerita Dari Mancanegara
| Pada zaman dahulu, di sebuah desa di Rusia, hiduplah seorang anak laki-laki Kedua kakak Ivan ketakutan, akhirnya mereka tertidur di atas rumput-rumput kering. Ketika terbangun keesokan paginya, ladang mereka sudah porak-poranda, bekas injakan terlihat di mana-mana. Namun, di rumah keduanya berbohong kepada ayahnya. “Semalaman kami berusaha tidak tidur.” “Berkat kami, ladang kita selamat.” “Bagus. Malam ini giliran Ivan yang berjaga. Lakukanlah dengan sungguh-sungguh!” Ketika Ivan tiba di ladang, ternyata tanaman gandumnya sudah porak-poranda. “Apakah kakak berbohong kepada ayah ?” “Baiklah, aku akan mencoba menangkap si penjahat itu.” Ketika sedang berjaga, terdengar suara ringkikan dari langit. Ternyata itu suara seekor kuda putih sedang terbang. Kemudian Ivan melepaskan cengkeraman tangannya. Tak lama kemudian, lahirlah tiga ekor anak kuda seperti yang telah dijanjikan sang kuda. Dua ekor begitu gagah dengan bulu tengkuknya yang berwarna keemasan, tetapi yang seekor lagi tubuhnya seperti seekor keledai yang kecil. Setelah menceritakan kejadian yang dialami Ivan kepada ayah dan kedua kakaknya, Ivan berangkat ke kota untuk menjual kuda. Kedua ekor kuda yang gagah itu ditunggangi oleh kakak Ivan, sedangkan kuda yang kecil ditunggangi oleh Ivan. Setibanya di Ibukota, kuda gagah milik Ivan menjadi barang dagangan yang menarik perhatian semua orang. Baginda Raja pun datang untuk melihatnya. Beliau begitu mengagumi kuda tersebut. “Ini benar-benar hebat. Aku sangat menyukainya.” Baginda Raja membeli kuda itu, dan membayarnya dengan uang emas yang banyak. Tetapi, ketika hendak dinaiki pengawal, kedua ekor kuda itu mengamuk. Ivan mengambil tali kekang kuda, kemudian menenangkannya dengan lemah lembut. “Ssst, tenang…” Raja tertarik dengan keahlian Ivan dan mengangkat Ivan menjadi pengurus kuda, dan memecat pengurus kuda yang lama. Kejadian itu membuat pengurus kuda yang lama merasa iri. Pada suatu malam, ia mengganti air dan makanan untuk kuda Ivan dengan barang yang sudah busuk, untuk membalas dendamnya pada Ivan. Ivan menyadari hal itu, lalu ia mengeluarkan bulu burung api, dan merabanya. Dalam sekejap, makanan dan air busuk itu berubah menjadi segar. Melihat kejadian itu, si Pengurus kuda lama berguman, “Ternyata ia menggunakan sihir.” Ia bergegas ke istana. “Baginda, Ivan menyembunyikan burung api. Buktinya, ia membawa bulu burung itu.” Kemudian Baginda Raja berkata kepada Ivan, “Bawa burung api itu ke sini!” “Baginda, hamba tidak memiliki burung api. Hamba hanya memiliki bulunya!” “Jangan bohong!” “Kalau kamu tidak membawakannya dalam tiga hari, aku akan memberi hukuman cambuk sebanyak seratus kali!” Ivan pulang ke kandang kuda sambil menangis. Si Kuda kecil berkata, “Aku sudah memperingatkanmu, supaya tidak memungut bulu burung api itu.” Tapi jangan takut, aku akan menangkapkan burung api untukmu. Sekarang tolong siapkan makanan.” Ivan dan Kuda kecil melakukan perjalanan yang sulit. Akhirnya mereka tiba di negeri yang tidak dikenal. Di tengah padang rumput, terdapat sebuah gunung emas. Mereka mendaki gunung itu, lalu meletakkan makanan yang dibawanya di sana, dan bersembunyi. Tiba-tiba dari kejauhan terlihat burung api terbang mendekat dan mulai Pengurus kuda yang lama semakin iri hati. Dia menghadap raja dan berkata, “Baginda, diam-diam Ivan menyembunyikan Putri Bulan di sebuah kapal kecil.” Raja kembali memanggil Ivan dan berkata,”Bawalah Putri Bulan kepadaku dalam waktu tiga hari!” Ivan yang tidak mengenal Putri Bulan pulang ke kandang kuda dengan wajah yang sedih. Si Kuda kecil berkata dengan lemah lembut, “Aku akan mencarikan Putri Bulan untukmu.” Kemudian Ivan menyiapkan bekal untuk perjalanan. Mereka mengarungi beberapa lautan, dan tiba di sebuah pantai yang tidak dikenal. Ivan segera mendirikan tenda, menjajarkan makanan, dan bersembunyi di balik tenda. Ketika hari menjelang pagi, muncullah sebuah perahu kecil dari balik kabut. Putri Bulan yang cantik jelita menghampiri meja yang telah disiapkan oleh Ivan. Ia mulai memainkan harpanya sambil menyantap makanan yang tersedia. Ivan berhasil menangkap Putri Bulan dan membawanya menghadap Baginda Raja. Melihat kecantikan Putri Bulan yang dibawa Ivan, Raja langsung melamarnya. |
di padang rumput agak jauh dari desa. Si Gembala itu anak yang nakal. Dia suka berbuat usil dengan teman-temannya. Pada suatu hari yang panas, dia sedang menggembala kambing-kambingnya di sebuah padang rumput, tak jauh dari desanya. Di kelompok lain, kambing-kambing orang-orang desa digembalakan juga, meski tidak ada yang menjaganya. Tiba-tiba, dia punya ide jahat untuk membohongi warga desa. Kemudian dia berteriak keras, "Ada serigala! Ada serigala! Tolong... tolong...tolong!" "Serigala mau makan kambing-kambing kita." Dia berharap warga desa mendengar teriakannya dan segera berlari ke arah padang rumput.
begitu ketakutan dan segera berteriak keras sekali, "Tolooong... toloooong, ada serigala mau makan kambing kambing ku, tolong!" Para warga desa mendengar teriakan anak gembala itu. Namun mereka diam saja, dikira pasti itu tipuan anak gembala itu lagi. Maka mereka diam saja di desa meneruskan pekerjaan mereka. Malang si anak gembala, semua kambingnya habis dimakan serigala.
yang berani dan baik hati. Ia bernama Ivan. Ivan tinggal bersama ayah dan dua orang kakaknya yang hidup dari hasil membuat tepung gandum. Pada suatu pagi, ketika Ivan dan keluarganya pergi ke ladang gandum, dilihatnya gandum mereka berantakan terinjak-injak. “Siapa yang melakukan ini?” “Mulai malam ini, kalian berjaga-jaga, kita tangkap penjahat itu!” Malam itu, ketika kedua kakak Ivan pergi ke ladang gandum, angin bertiup dengan kencangnya, seperti akan datang badai.
Ivan merenggut bulu tengkuk kuda yang berwarna emas itu, kemudian menunggangi punggung sang kuda. Kuda tersebut mengamuk karena terkejut. Ia berusaha menjatuhkan Ivan dari punggungnya. “Aku tidak akan menyerah!” tekad Ivan. Kuda itu terbang semakin tinggi, melompat-lompat semalaman. Tetapi, ia tidak bisa menjatuhkan Ivan. “Ivan, maafkan aku.” “Sebagai permintaan maaf, aku akan memberikan tiga ekor anakku.” “Kamu boleh menjual dua ekor kuda yang putih, tapi anak kuda yang masih kecil tidak boleh dijual. Anak kuda itu adalah kuda keberuntungan yang dapat mengabulkan permintaanmu.”
Pada suatu malam yang gelap gulita, dari kejauhan terlihat cahaya berwarna merah menyala. “Itu pasti pencuri! Pergilah kamu ke sana untuk melihatnya, Ivan!” Kemudian Ivan pun pergi menuju kearah nyala api. Ternyata cahaya itu berasal dari sehelai bulu burung yang terjatuh. “Aneh. Ada bulu burung menyala seperti ini. Tetapi, tidak panas ataupun melukai tanganku.” “Ivan, kalau kau ambil bulu burung itu, hal yang buruk akan terjadi.” Anak kuda berusaha memperingatkannya, namun Ivan tidak peduli, dan memasukkan bulu itu ke dalam kantong bajunya.
memakan makanan itu. Cahaya terang dari bulunya membuat hari menjadi seperti siang. Ivan melompat dan menangkap burung api itu, lalu cepat-cepat memasukkannya ke dalam sebuah kantong, dan segera kembali ke istana. “Tuanku yang mulia, ini burung api yang Baginda minta.” Ivan mengeluarkan burung api dari kantong. Semua orang yang hadir melindungi matanya dengan tangan mereka karena silau oleh cahaya dari tubuh burung api. “Ivan kau berhasil melaksanakan tugasmu dengan baik!” Raja memberi emas dan permata kepada Ivan sebagai hadiah.
Kalau Anda ingin menikah denganku, tolong siapkan tiga buah periuk. Yang satu berisi air dingin, yang kedua berisi air panas, dan yang ketiga berisi air susu yang sudah masak.” “Kalau Baginda dapat melompati ketiga periuk itu, aku bersedia menjadi istri Baginda.” Maka, disiapkanlah tiga buah periuk. Namun baginda Raja merasa takut dan tidak mampu melompati ketiga periuk itu. Raja lalu memerintahkan Ivan untuk melompati ketiga periku itu sebagai ganti dirinya. Ivan melompati ketiga periuk itu dengan rasa khawatir. Tetapi, ajaib! Ivan berubah menjadi seorang pangeran yang tampan dan gagah. Raja yang melihat hal ini mengikuti jejak Ivan, namun ia terbakar dan akhirnya meninggal dunia. Kemudian Ivan menikah dengan Putri Bulan, dan hidup bahagia.